Pages

Wednesday, July 10, 2013

        "Happy anniversary!" Ucap Gilang kepada Sezi. Tepat 2 tahun Gilang dan Sezi menjalin hubungan yang cukup harmonis. Boneka beruang coklat dipelukan Sezi merupakan hadiah yang didapatkannya dari Gilang, sebagai wujud rasa sayangnya kepada Sezi yang sudah 2 tahun ini memberikan rasa sayang yang sama kepadanya. Mereka memang belum diberi lampu hijau oleh kedua orang tua mereka untuk berpacaran. Karena mereka masih duduk di bangku SMA kelas 2. Jadi, mereka selalu sembunyi-sembunyi jika ingin pergi berdua. Mencari-cari alasan yang jitu agar bisa keluar rumah. Itu sudah jadi keahlian mereka.
        Di sekolah, Gilang dan Sezi tidak belajar dalam satu kelas. Gilang di kelas XI IPA 2, dan Sezi di kelas XI IPA 4. Ini merupakan keberuntungan bagi Sezi, karena dia khawatir jika berada di kelas yang sama dengan Gilang, dia akan merasa malu kepada Gilang pada setiap pelajaran bahasa inggris. Karena, bahasa inggrisnya masih sangat kacau. Sezi pun seakan membenci pelajaran bahasa inggris. Dia benci, karena dia tidak bisa. Mengetahui hal itu, orang tua Sezi memutuskan untuk mendaftarkan Sezi ke kursus bahasa inggris. Di sana, dia belajar bahasa inggris lebih aktif dari pada di sekolah. Karena menurutnya, belajar di sana lebih menyenangkan. Bahasa inggrisnya pun perlahan membaik.
        Sejak Sezi kursus bahasa inggris, Gilang harus bisa menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa lagi setiap hari pulang sekolah bersama. Hanya hari-hari tertentu saja, jika Sezi tidak kursus bahasa inggris. Dan hari ini, Sezi harus pergi ke tempat kursusnya lagi. Sezi mendapat sedikit bocoran dari Mr. Ayung (tentor bahasa inggrisnya), mengenai materi hari ini. Kebetulan, materi hari ini adalah materi kesukaannya. Dia pun begitu bersemangat. Sampai-sampai dia lupa berpamitan dengan Gilang. Gilang memaklumi itu. Karena dia sudah paham akan sikap kekasihnya itu.
        Sesampainya di lokasi...
        Sezi berulang kali mengacak-acak isi tasnya. Tapi dia tak menemukan apa yang dicarinya. "Mana kotak pensilku??" keluhnya pelan. Lalu, dari sudut pandangannya, dia melihat tangan kanan menyodorkan pena. Seperti tangan lelaki. "Ini, pinjam saja penaku." Ucap pemilik tangan itu. Benar! suaranya juga seperti suara laki-laki. Perlahan, Sezi mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu. Dia tersenyum pada Sezi. Sezi membalas dengan senyum simpulnya seraya meraih pena dari tangan lelaki itu. "Terima kasih." Ucap Sezi dengan sedikit gugup. Lelaki itu hanya tersenyum.
        Setelah pelajaran selesai, Sezi beranjak dari tempat duduknya. Namun, dia hampir lupa akan satu hal. Mengembalikan pena yang dipinjamnya tadi. Tapi, lelaki itu begitu cepat menghilang. Sezi bergegas keluar ruangan, dan tiba-tiba berhenti didepan meja administrasi. Lelaki itu berada di sana. Mungkin dia sedang membayar iuran bulan ini. Sezi menunggunya di depan pintu keluar, sambil sesekali memperhatikan gerak-geriknya.
        Tak lama kemudian, lelaki itu pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Sezi memang berniat untuk memanggilnya, dengan tujuan untuk mengembalikan pena yang dipinjamnya tadi. Tapi, Sezi bingung bagaimana harus memanggilnya. Karena, dia tidak tahu namanya. Lalu, "Tunggu, ini penamu!" Teriak Sezi spontan, dengan nada yang tidak terlalu tinggi. Lelaki itu menghentikan langkahya, dengan perlahan dia menoleh ke arah Sezi. Tatapan matanya sungguh menawan. Tak tertinggal seulas senyum diwajahnya. Sambil tersenyum tipis, Sezi memberikan pena itu padanya.
        "Terima kasih" ucap Sezi.
        "Sama-sama." balas lelaki itu.
        Sezi hanya diam ditempat dan tak lagi melontarkan sepatah kata pun. Dia terpaku. Pipinya memerah tersipu malu. Lelaki itu pun menatapnya penuh tanya.
        "Eum...kalo boleh tau, nama kamu siapa?" tanya lelaki itu. Sezi terkejut. Dia tak menyangka lelaki itu akan menanyakan namanya.
        "Hmmm...namaku...namaku Sezi." jawabnya dengan sedikit terbata.
        "Oh, Sezi. Nama yang indah. Kenalin, aku Riko." Kata lelaki itu sambil mengulurkan tangannya. Sezi segera menyambut tangan itu. Percakapan diantara mereka berlangsung hangat. Kini, mereka pun sudah saling mengenal satu sama lain. Dan ternyata, Riko juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Sezi, dia anak kelas satu. Maklum, Sezi lebih suka berada di kelas ketimbang menghabiskan waktu istirahat dengan mengitari sekolah. Jadi, Sezi merasa tidak pernah sama sekali melihat Riko di sekolah. Begitupun sebaliknya.

To Be Continued...

No comments:

Post a Comment